Thursday, January 21, 2010
Kasih
Adakah waktu dan luka menggerus cinta dan rasa?
Saat Ia berdiam diri tidaklah berarti Ia berkata tidak!
Ia yang mencipta hati, masakkan tak merasa?
Hanya Ia yang mengerti, berserahlah padaNya.
-ash-
Jakarta, Januari 2010
Thursday, April 16, 2009
SIAPA YANG MEMEGANG KENDALI?

Sunday, March 22, 2009
Salib
Friday, March 20, 2009
Yesus Bermahkota Emas #3
Entah berapa lama aku menikmati debar-debar aneh di jiwaku. Sesaat aku ingin meluapkan tangisanku, sesaat lagi aku ingin tertawa melampiaskan sukacitaku. Aku tak tahu, perasaanku begitu meluap-luap dengan aneka emosi yang tersimpan selama ini. Aku ingin…. Aku ingin…. Ah… aku tidak ingin apa-apa lagi…!
Tiba-tiba saja aku tersentak dari kebahagiaan yang paling dalam kurasakan, keriuhan dan kebisingan orang-orang kembali mengganggu ketentramanku. Orang-orang itu tampak bingung, entah apa yang terjadi. Samar kudengar suara mereka berkata, ‘Yesus hilang!’ Segera aku teringat sesuatu dan aku berlari ke Gereja di tepi jalan Raya. Apa yang akan terjadi…?
Orang-orang, tua-muda, telah ramai di halaman Gereja ketika aku tiba dengan napas terengah-engah. Dan patung itu tidak ada di sana lagi –syukurlah aku tidak bermimpi- tinggal mahkota dan tongkat emas yang ditinggal begitu saja. Tidak seorangpun tahu apa yang terjadi, orang-orang sibuk membuat dugaan-dugaan yang tidak karuan bagiku. Yesus hilang..?! Mungkinkah Yesus hilang?
Tak lama berselang, tampaklah Pendeta beserta dengan Pejabat dan Pengusaha tiba di Gereja itu. Pejabat itu segera berdiri di depan orang-orang itu dan mulai berkata-kata:
Tenang … Saudara-saudara… tenang!
Begini, tentunya kalian bingung dengan ‘hilangnya’ monumen kebanggaan kita ini. Saudara-saudara tidak perlu bingung, saat ini kami akan menyampaikan berita sukacita bagi kita semua. Kita akan merenovasi monumen ‘Kristus Raja’ dengan membangun patung baru yang lebih megah. Segala biaya dan persiapan pembangunan ulang monumen ini telah siap. Ketiadaan patung ini merupakan bagian dari renovasi yang telah direncanakan sebelumnya. Kalian bisa melihat sendiri bahwa Mahkota, Jubah dan Tongkat yang indah itu masih utuh bukan?
Jadi saya minta saudara-saudara tidak perlu bingung lagi. Bahkan sebaliknya kita harus bersuka-cita karena dalam waktu dekat ini kita akan memiliki monumen baru yang jauh lebih indah dan lebih megah.
Pejabat itu berbicara dengan mantap sekali, hampir-hampir aku menjadi percaya dengan apa yang dikatakannya. Kalau saja aku tidak melihat sendiri kejadian semalam pastilah aku akan termakan dengan kebohongan kata-kata itu. Heran, pastilah ia telah menghabiskan sebagian hidupnya dengan kebohongan, sampai-sampai ia dapat mengungkapkan kebohongan dengan begitu meyakinkan. Atau mungkin ia memiliki bakat untuk menjadi pemain watak yang hebat? Siapa peduli? Yang pasti aku tahu bahwa ia berbohong.
Setelah Pejabat itu selesai berbicara, Pendeta itu pun mulai berbicara pula:
Nah, Saudara-saudara kita telah mendengar keterangan dari Bapak Pejabat. Jadi tidak perlu ada yang dikuatirkan, sekali lagi saya mohon, jangan mudah terpancing ataupun mau dipancing oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab. Lakukan check dan recheck senantiasa… Sekarang pulanglah dan mulai minggu depan saudara-saudara akan diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pendanaan proyek renovasi Monumen Yesus Raja.
Tuhan memberkati!
Seperti biasa Pendeta itu berkata-kata dengan tenang. Namun suara dan gaya Pendeta itu tidak cukup untuk menyembunyikan kegelisahan dan kecemasan yang aku tahu tengah ia rasakan. Aku tak tahu mengapa Pendeta itu mengatakan sesuatu yang tidak benar. Mungkin ia terpaksa karena tidak mempunyai pilihan. Pastilah Tuhannya tidak memberitahukan apa yang sesungguhnya terjadi padanya. Ups… kenapa Yesus mengijinkan aku untuk merekam segala kejadian tersebut?
Orang-orang itu pun bubar, kembali kepada keriuhan yang selalu mereka timbulkan setiap harinya. Pendeta, pejabat dan pengusaha itu pun meninggalkan Gereja seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Tinggallah aku sendiri menatap mahkota dan tongkat tanpa patung yang berdiri di atasnya. Mungkin tak lama lagi akan berdiri kembali monumen yang lebih megah, aku tidak tahu. Aku ingin bercerita tentang apa yang telah kulihat, tetapi siapa yang mau mempercayai perkataanku. Sudah cukup aku dikatakan gila, tak ingin aku menambah keanehanku dengan cap lainnya.
Kembali perkataan-perkataan Yesus terdengar berulang-ulang di hatiku. Dan kembali ada gairah yang meluap-luap di jiwaku, sedih – gembira berbaur menjadi satu.
“Yesus, aku mau belajar mengasihiMu pula. Aku mau Engkau besertaku selalu!”
ash, Maret 99
Yesus Bermahkota Emas #2
Monumen itu masih berdiri megah. Hingga hari ini aku belum juga mengerti mengapa mereka mendirikan monumen itu. Padahal setiap hari mereka hanya sibuk dengan keriuhan tanpa sempat memandang keindahan patung itu. Paling-paling pada hari Minggu sebagian orang-orang itu menyempatkan diri datang ke Gereja, itupun tak lebih dari 2 atau 3 jam. Sibuk… sibuk… hari lepas hari.. apa sih yang mereka cari? Uang…?
Malam itu, cuaca cukup dingin, bulan enggan menampakkan cerianya. Kegelapan menyelubungi jalan-jalan kota. Aku sedang duduk menatap patung yang megah itu dari seberang jalan. Memang semenjak patung itu didirikan, setiap malam aku membiarkan diriku dipuaskan dengan memperhatikan patung itu. Jangan tanya padaku mengapa, aku tidak tahu!
Kediaman malam itu tiba-tiba terusik dengan ratapan seorang perempuan yang berjalan di kedinginan malam. Aku mencoba untuk tidak membiarkan keasyikanku terganggu dengan kehadiran perempuan yang kuyakini sebagai pelacur itu. Namun, suara-suara, kata-kata yang keluar dari ratapan perempuan itu masuk menerobos begitu saja ke pendengaranku. Aku tak dapat mengacuhkannya.
Mengapakah Sorga melahirkanku sebagai seorang perempuan yang lemah dan tak berdaya di bumi yang dimiliki para lelaki…?
Mengapakah Langit menunjuk kemiskinan dan kebodohan sebagai orangtuaku…..?
Takdir…. Engkau memang kejam…!
Apakah dosaku, wahai Sang Penguasa Nasib, sehingga kemalangan dan penderitaan ini kau timpakan padaku.
Bahkan anakku… belahan jiwaku… cahaya hidupku pun kau rengut dari hidupku.
Mengapa tidak kau sisakan setetes air kebahagiaan yang menyejukkan jiwa yang kering dengan celaan dan hinaan?
Mengapa aku tidak mati saja waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?
Mengapa ada pangkuan menerima aku; mengapa ada buah dada, sehingga aku dapat menyusu?
Mengapa aku tidak seperti anak gugur yang disembunyikan, seperti bayi yang tidak melihat terang?
Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan! Biarlah jangan diberkati hari ketika ibuku melahirkan aku!
Mengapa gerangan aku keluar dari kandungan, melihat kesusahan dan kedukaan, sehingga hari-hariku habis berlalu dalam malu?
Ratapan perempuan malam itu menusuk pikir dan rasaku. Mengapa…. Mengapa seorang perempuan lemah harus mengalami derita semacam itu. Aku tidak tahu, dan aku heran mengapa aku bahkan tak pernah bertanya demikian. Aku tidak pernah bertanya mengapa ada begitu banyak penderitaan dan ketidakadilan kulihat selama ini. Aku hanya melihat dan tak pernah mempertanyakannya, lagipula kepada siapa aku harus bertanya? Apakah mentari yang melihat jauh lebih banyak dari yang kulihat mengetahui jawabnya? Apakah jawabannya tersembunyi di balik kegelapan malam yang tak sempat kujelajahi?
Kini aku mulai memperhatikan perempuan itu dengan seksama. Sekarang ia terdiam memandang patung di hadapannya. Tiba-tiba saja, ia meledakkan kemarahannya. Terkejut aku dibuatnya… aku sama sekali tidak menyangka bahwa dari ratapan lemah mendadak menjadi teriakan dan jeritan kemarahan yang melengking.
... Apa urusanmu denganku hai Yesus! Apa peduliMu dengan nasibku! Dengar aku mau bicara tentang anak-anakMu, mungkin saja Kau tidak mendengar dan melihat apa yang kulihat. Omong kosong saja semua cinta kasih yang digembar-gemborkan murid-muridMu. Kasih…. Kasih…. puih ….. munafik……. munafik…. penipu busuk kalian semua. Jijik aku melihat topeng-topeng yang menutupi koreng-koreng yang membusuk. Mereka menuduh dan menghina aku sebagai pelacur….yah.. memang aku pelacur, tetapi aku tidak munafik… tetapi mereka .. apakah mereka suci… apakah mereka berhak melempar batu yang pertama… Ha… ha… ha… bukankah mereka juga melacur dengan pikiran dan hatinya? Bahkan meniduri tubuh yang Kau buat ini….. dasar munafik…! Persetan dengan proyek-proyek kasih anak-anakMu…. Mereka tidak pernah menganggap kami manusia… kami hanyalah obyek-obyek tanpa harga diri… Persetan dengan gereja-Mu yang angkuh dengan segala kemewahannya. Persetan dengan gedung-gedung yang dilabur putih untuk menutupi bau busuknya… persetan semua…!
Dan Engkau Yesus….. Dimanakah Engkau saat aku membutuhkan Engkau? Dimanakah Engkau saat anakku menjerit kesakitan karena tidak mampu membeli obat? Dimanakah Engkau saat suami-ku tertangkap dan terpenjara di sel-sel kusam karena tidak tahan mendengar tangis anaknya? Mengapa Engkau membiarkan anakku mati? Mengapa tak Kau tinggalkan bagiku seorang penghibur bagi hati yang hancur dengan keperihan ini? Sama saja, Engkau tidak berbeda dengan anak-anakMu. Engkau tidak pernah peduli akan penderitaan jiwa-jiwa yang dihina dan ditindas dalam kemiskinan. Dimanakah Engkau ya Allah, ketika pria-pria busuk itu menghambur meniduri tubuh ini- baitMu! Ha… ha… ha.. Bukan aku … bukan aku yang busuk, anak-anakMu itulah yang memperkosa baitMu.
Yesus mati… biarlah Engkau mati saja dan tak pernah bangkit lagi… Sekalipun Engkau bangkit pun tidak ada artinya, sebab bagiku Engkau telah mati… Matilah Kau Yesus dan jangan bangkit lagi sebab Engkau telah mati!
Aku tidak mengerti mengapa kebencian dan kemarahan perempuan itu meledak begitu memandang patung yang berdiri megah itu. Perempuan itu berlalu, berlari menjauhi Gereja. Tiba-tiba saja aku merasakan keheningan malam menjadi begitu nyata. Alam seakan-akan berhenti melangkah… diam … hening…! Tak lama kemudian aku melihat perempuan malam itu kembali mendekati patung itu. Apa yang terjadi dengannya saat terjadi keheningan yang tak dapat kugambarkan dengan kata tadi? Apa yang hendak ia lakukan?
Tuhan….
Seringkali aku berpikir, aku tidak mau mengingat-ingat Engkau lagi dan melupakan segala perkataanMu. Namun dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.
Kemana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, kemana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau ada.
Lihat… perempuan itu kini berlutut di hadapan patung Yesus, membiarkan airmatanya menetes begitu saja tanpa berusaha menghentikannya. Apa yang akan terjadi?
Mendadak, penglihatanku tersentak…. Aku mengucek-ngucek mataku untuk meyakinkan bahwa mata pelihat ini tidak sedang bermimpi. Patung itu hidup….! Gila… benarkah ini bukan mimpi? Patung itu… tepatnya Lelaki itu… turun dari tempatnya, melepas mahkota emas dan meletakkannya di tempat ia semula berdiri bersama dengan tongkat yang di pegangnya. Lalu kudengar Ia berkata kepada perempuan itu:
Anak-Ku…. janganlah takut….!
Anak-Ku ketahuilah Aku sangat mengasihi engkau, Aku sangat rindu untuk boleh mendampingimu dan tinggal bersamamu. Aku mendengar segala perkara yang kau sampaikan….. Aku melihat segala apa yang telah kau alami… Aku merasakan penderitaanmu… bukan engkau yang mereka hina…Akulah yang mereka hina, bukan engkau yang mereka aniaya dan tindas… Akulah yang mereka aniaya dan tindas… bukan engkau yang ditinggalkan mereka… Aku… Akulah yang telah mereka tinggalkan.
Hari ini kemarahan, kekecewaan dan keputusasaan yang kau tumpahkan dengan gelora hati yang membara telah menjadi api yang mebebaskan Aku dari keterpenjaraanKu dengan segala kemewahan dan keindahan. Mahkota emas, jubah dan tongkat yang indah ini telah menjadi penghalang bagi langkahKu. Aku tidak menginginkan ini semua. Aku lebih suka mengenakan mahkota duri penderitaaan bersamamu… aku lebih suka menjadi pelayan yang miskin daripada memegang tongkat kekuasaan. Aku ingin engkau tahu betapa Aku mengasihi dan mempedulikan kalian. Marilah…. Bangkitlah, hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.
Perempuan itu –dengan berurai air mata- bangkit berdiri dan kini Lelaki itu merangkul perempuan itu berjalan menjauhi Gereja. Terpaku aku menatap Lelaki itu merangkul perempuan pelacur itu berjalan menembus kegelapan malam. Lalu aku tersentak… mimpikah aku? Tidak… patung Yesus itu telah tidak ada di tempatnya, hanya mahkota dan tongkat emas yang tertinggal. Aku tidak bermimpi! Sadar akan hal ini segera aku berlari menghambur ke arah perjalanan Lelaki dan perempuan tadi.
Syukurlah aku masih dapat menemukan sosok bayang putih yang berjalan merangkul perempuan malam. Aku tidak mendengar suara percakapan, tampaknya mereka tidak berbicara sepanjang perjalanan ini. Mungkin kata-kata sudah tidak bermakna untuk saat-saat seperti ini. Mungkin mereka saling berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti. Aku tak tahu, aku hanya tetap mengikuti mereka dari jarak yang tertentu, berharap agar aku tidak mengganggu perjalanan mereka.
Tiba-tiba mereka menghentikan langkahnya, dengan terkejut aku pun berhenti dan mulai memperhatikan sekitarku. Malam masih gelap, namun aku tahu kami telah mendekati kompleks pelacuran di batas kota.
Tuhan…. Cukuplah sampai disini saja. Engkau tidak layak masuk ke daerah yang kumuh dan jorok ini. Terlalu suci Engkau Tuhan…. Tidak… Tidak… cukuplah sampai disini saja. Janganlah Kau biarkan pakaianMu dikotori dengan sampah-sampah yang membusuk ini. Kembalilah Engkau Tuhan ke gerejaMu yang suci dan indah itu.
Kudengar perempuan itu berkata dengan nada yang sukar kutebak, entah sedih, entah kecewa sukar untuk kupahami. Lalu kudengar Lelaki itu berkata-kata sambil menatap sosok perempuan itu. Ah… betapa aku ingin untuk dapat selalu mendengar suara itu menggantikan kebisingan yang kudengar selama ini.
Anak-Ku, mengapa engkau berkata demikian? Aku bersungguh-sungguh akan perkataan-Ku. Hari ini aku akan memberitakan sukacita besar bagi kalian. Aku mengasihi dan mau menanggung penderitaan yang sama dengan kalian. Tidakkah engkau ingat, saat Aku mati di atas kayu salib tirai bait suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah? Bukankah kini sudah tidak ada penghalang lagi bagiKu untuk menghampiri umat yang Ku kasihi? Janganlah menolak Aku… janganlah kau bangun kembali tirai yang telah terbelah itu. Marilah…
Kali ini perempuan itu tidak menolak, dan merekapun melangkah kembali menuju ke arah keremangan kompleks yang tampak kusam ditengah kegelapan malam.
Aku tidak mengikuti mereka lagi, aku hanya terpaku mengingat segala kejadian dan perkataan yang kudengar di malam ini. Apa yang dikatakan oleh Lelaki itu, sangat berbeda dengan apa yang pernah kudengar dan pikirkan selama ini. Pikiran tentang Yesus yang berjalan merangkul pundak seorang pelacur sama sekali asing dalam pikir dan khayalan. Aku memang pernah mendengar bahwa Yesus mengasihi orang-orang yang berdosa, menderita dan tertindas. Namun, tak terbayangkan olehku bahwa Ia mau tinggal dan mendampingi orang-orang yang terbuang dari kehidupan yang melelahkan ini. Apakah yang kulihat barusan adalah Yesus yang lain? Jangan-jangan itu hanya tipuan penguasa kegelapan saja? Tetapi, keheningan yang kualami…. suara yang masih terngiang itu… terlebih lagi debar-debar di hatiku… ah tak mungkin lain… pastilah Lelaki itu ialah Yesus.