Monumen itu masih berdiri megah. Hingga hari ini aku belum juga mengerti mengapa mereka mendirikan monumen itu. Padahal setiap hari mereka hanya sibuk dengan keriuhan tanpa sempat memandang keindahan patung itu. Paling-paling pada hari Minggu sebagian orang-orang itu menyempatkan diri datang ke Gereja, itupun tak lebih dari 2 atau 3 jam. Sibuk… sibuk… hari lepas hari.. apa sih yang mereka cari? Uang…?
Malam itu, cuaca cukup dingin, bulan enggan menampakkan cerianya. Kegelapan menyelubungi jalan-jalan kota. Aku sedang duduk menatap patung yang megah itu dari seberang jalan. Memang semenjak patung itu didirikan, setiap malam aku membiarkan diriku dipuaskan dengan memperhatikan patung itu. Jangan tanya padaku mengapa, aku tidak tahu!
Kediaman malam itu tiba-tiba terusik dengan ratapan seorang perempuan yang berjalan di kedinginan malam. Aku mencoba untuk tidak membiarkan keasyikanku terganggu dengan kehadiran perempuan yang kuyakini sebagai pelacur itu. Namun, suara-suara, kata-kata yang keluar dari ratapan perempuan itu masuk menerobos begitu saja ke pendengaranku. Aku tak dapat mengacuhkannya.
Mengapakah Sorga melahirkanku sebagai seorang perempuan yang lemah dan tak berdaya di bumi yang dimiliki para lelaki…?
Mengapakah Langit menunjuk kemiskinan dan kebodohan sebagai orangtuaku…..?
Takdir…. Engkau memang kejam…!
Apakah dosaku, wahai Sang Penguasa Nasib, sehingga kemalangan dan penderitaan ini kau timpakan padaku.
Bahkan anakku… belahan jiwaku… cahaya hidupku pun kau rengut dari hidupku.
Mengapa tidak kau sisakan setetes air kebahagiaan yang menyejukkan jiwa yang kering dengan celaan dan hinaan?
Mengapa aku tidak mati saja waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?
Mengapa ada pangkuan menerima aku; mengapa ada buah dada, sehingga aku dapat menyusu?
Mengapa aku tidak seperti anak gugur yang disembunyikan, seperti bayi yang tidak melihat terang?
Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan! Biarlah jangan diberkati hari ketika ibuku melahirkan aku!
Mengapa gerangan aku keluar dari kandungan, melihat kesusahan dan kedukaan, sehingga hari-hariku habis berlalu dalam malu?
Ratapan perempuan malam itu menusuk pikir dan rasaku. Mengapa…. Mengapa seorang perempuan lemah harus mengalami derita semacam itu. Aku tidak tahu, dan aku heran mengapa aku bahkan tak pernah bertanya demikian. Aku tidak pernah bertanya mengapa ada begitu banyak penderitaan dan ketidakadilan kulihat selama ini. Aku hanya melihat dan tak pernah mempertanyakannya, lagipula kepada siapa aku harus bertanya? Apakah mentari yang melihat jauh lebih banyak dari yang kulihat mengetahui jawabnya? Apakah jawabannya tersembunyi di balik kegelapan malam yang tak sempat kujelajahi?
Kini aku mulai memperhatikan perempuan itu dengan seksama. Sekarang ia terdiam memandang patung di hadapannya. Tiba-tiba saja, ia meledakkan kemarahannya. Terkejut aku dibuatnya… aku sama sekali tidak menyangka bahwa dari ratapan lemah mendadak menjadi teriakan dan jeritan kemarahan yang melengking.
... Apa urusanmu denganku hai Yesus! Apa peduliMu dengan nasibku! Dengar aku mau bicara tentang anak-anakMu, mungkin saja Kau tidak mendengar dan melihat apa yang kulihat. Omong kosong saja semua cinta kasih yang digembar-gemborkan murid-muridMu. Kasih…. Kasih…. puih ….. munafik……. munafik…. penipu busuk kalian semua. Jijik aku melihat topeng-topeng yang menutupi koreng-koreng yang membusuk. Mereka menuduh dan menghina aku sebagai pelacur….yah.. memang aku pelacur, tetapi aku tidak munafik… tetapi mereka .. apakah mereka suci… apakah mereka berhak melempar batu yang pertama… Ha… ha… ha… bukankah mereka juga melacur dengan pikiran dan hatinya? Bahkan meniduri tubuh yang Kau buat ini….. dasar munafik…! Persetan dengan proyek-proyek kasih anak-anakMu…. Mereka tidak pernah menganggap kami manusia… kami hanyalah obyek-obyek tanpa harga diri… Persetan dengan gereja-Mu yang angkuh dengan segala kemewahannya. Persetan dengan gedung-gedung yang dilabur putih untuk menutupi bau busuknya… persetan semua…!
Dan Engkau Yesus….. Dimanakah Engkau saat aku membutuhkan Engkau? Dimanakah Engkau saat anakku menjerit kesakitan karena tidak mampu membeli obat? Dimanakah Engkau saat suami-ku tertangkap dan terpenjara di sel-sel kusam karena tidak tahan mendengar tangis anaknya? Mengapa Engkau membiarkan anakku mati? Mengapa tak Kau tinggalkan bagiku seorang penghibur bagi hati yang hancur dengan keperihan ini? Sama saja, Engkau tidak berbeda dengan anak-anakMu. Engkau tidak pernah peduli akan penderitaan jiwa-jiwa yang dihina dan ditindas dalam kemiskinan. Dimanakah Engkau ya Allah, ketika pria-pria busuk itu menghambur meniduri tubuh ini- baitMu! Ha… ha… ha.. Bukan aku … bukan aku yang busuk, anak-anakMu itulah yang memperkosa baitMu.
Yesus mati… biarlah Engkau mati saja dan tak pernah bangkit lagi… Sekalipun Engkau bangkit pun tidak ada artinya, sebab bagiku Engkau telah mati… Matilah Kau Yesus dan jangan bangkit lagi sebab Engkau telah mati!
Aku tidak mengerti mengapa kebencian dan kemarahan perempuan itu meledak begitu memandang patung yang berdiri megah itu. Perempuan itu berlalu, berlari menjauhi Gereja. Tiba-tiba saja aku merasakan keheningan malam menjadi begitu nyata. Alam seakan-akan berhenti melangkah… diam … hening…! Tak lama kemudian aku melihat perempuan malam itu kembali mendekati patung itu. Apa yang terjadi dengannya saat terjadi keheningan yang tak dapat kugambarkan dengan kata tadi? Apa yang hendak ia lakukan?
Tuhan….
Seringkali aku berpikir, aku tidak mau mengingat-ingat Engkau lagi dan melupakan segala perkataanMu. Namun dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.
Kemana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, kemana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau ada.
Lihat… perempuan itu kini berlutut di hadapan patung Yesus, membiarkan airmatanya menetes begitu saja tanpa berusaha menghentikannya. Apa yang akan terjadi?
Mendadak, penglihatanku tersentak…. Aku mengucek-ngucek mataku untuk meyakinkan bahwa mata pelihat ini tidak sedang bermimpi. Patung itu hidup….! Gila… benarkah ini bukan mimpi? Patung itu… tepatnya Lelaki itu… turun dari tempatnya, melepas mahkota emas dan meletakkannya di tempat ia semula berdiri bersama dengan tongkat yang di pegangnya. Lalu kudengar Ia berkata kepada perempuan itu:
Anak-Ku…. janganlah takut….!
Anak-Ku ketahuilah Aku sangat mengasihi engkau, Aku sangat rindu untuk boleh mendampingimu dan tinggal bersamamu. Aku mendengar segala perkara yang kau sampaikan….. Aku melihat segala apa yang telah kau alami… Aku merasakan penderitaanmu… bukan engkau yang mereka hina…Akulah yang mereka hina, bukan engkau yang mereka aniaya dan tindas… Akulah yang mereka aniaya dan tindas… bukan engkau yang ditinggalkan mereka… Aku… Akulah yang telah mereka tinggalkan.
Hari ini kemarahan, kekecewaan dan keputusasaan yang kau tumpahkan dengan gelora hati yang membara telah menjadi api yang mebebaskan Aku dari keterpenjaraanKu dengan segala kemewahan dan keindahan. Mahkota emas, jubah dan tongkat yang indah ini telah menjadi penghalang bagi langkahKu. Aku tidak menginginkan ini semua. Aku lebih suka mengenakan mahkota duri penderitaaan bersamamu… aku lebih suka menjadi pelayan yang miskin daripada memegang tongkat kekuasaan. Aku ingin engkau tahu betapa Aku mengasihi dan mempedulikan kalian. Marilah…. Bangkitlah, hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.
Perempuan itu –dengan berurai air mata- bangkit berdiri dan kini Lelaki itu merangkul perempuan itu berjalan menjauhi Gereja. Terpaku aku menatap Lelaki itu merangkul perempuan pelacur itu berjalan menembus kegelapan malam. Lalu aku tersentak… mimpikah aku? Tidak… patung Yesus itu telah tidak ada di tempatnya, hanya mahkota dan tongkat emas yang tertinggal. Aku tidak bermimpi! Sadar akan hal ini segera aku berlari menghambur ke arah perjalanan Lelaki dan perempuan tadi.
Syukurlah aku masih dapat menemukan sosok bayang putih yang berjalan merangkul perempuan malam. Aku tidak mendengar suara percakapan, tampaknya mereka tidak berbicara sepanjang perjalanan ini. Mungkin kata-kata sudah tidak bermakna untuk saat-saat seperti ini. Mungkin mereka saling berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti. Aku tak tahu, aku hanya tetap mengikuti mereka dari jarak yang tertentu, berharap agar aku tidak mengganggu perjalanan mereka.
Tiba-tiba mereka menghentikan langkahnya, dengan terkejut aku pun berhenti dan mulai memperhatikan sekitarku. Malam masih gelap, namun aku tahu kami telah mendekati kompleks pelacuran di batas kota.
Tuhan…. Cukuplah sampai disini saja. Engkau tidak layak masuk ke daerah yang kumuh dan jorok ini. Terlalu suci Engkau Tuhan…. Tidak… Tidak… cukuplah sampai disini saja. Janganlah Kau biarkan pakaianMu dikotori dengan sampah-sampah yang membusuk ini. Kembalilah Engkau Tuhan ke gerejaMu yang suci dan indah itu.
Kudengar perempuan itu berkata dengan nada yang sukar kutebak, entah sedih, entah kecewa sukar untuk kupahami. Lalu kudengar Lelaki itu berkata-kata sambil menatap sosok perempuan itu. Ah… betapa aku ingin untuk dapat selalu mendengar suara itu menggantikan kebisingan yang kudengar selama ini.
Anak-Ku, mengapa engkau berkata demikian? Aku bersungguh-sungguh akan perkataan-Ku. Hari ini aku akan memberitakan sukacita besar bagi kalian. Aku mengasihi dan mau menanggung penderitaan yang sama dengan kalian. Tidakkah engkau ingat, saat Aku mati di atas kayu salib tirai bait suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah? Bukankah kini sudah tidak ada penghalang lagi bagiKu untuk menghampiri umat yang Ku kasihi? Janganlah menolak Aku… janganlah kau bangun kembali tirai yang telah terbelah itu. Marilah…
Kali ini perempuan itu tidak menolak, dan merekapun melangkah kembali menuju ke arah keremangan kompleks yang tampak kusam ditengah kegelapan malam.
Aku tidak mengikuti mereka lagi, aku hanya terpaku mengingat segala kejadian dan perkataan yang kudengar di malam ini. Apa yang dikatakan oleh Lelaki itu, sangat berbeda dengan apa yang pernah kudengar dan pikirkan selama ini. Pikiran tentang Yesus yang berjalan merangkul pundak seorang pelacur sama sekali asing dalam pikir dan khayalan. Aku memang pernah mendengar bahwa Yesus mengasihi orang-orang yang berdosa, menderita dan tertindas. Namun, tak terbayangkan olehku bahwa Ia mau tinggal dan mendampingi orang-orang yang terbuang dari kehidupan yang melelahkan ini. Apakah yang kulihat barusan adalah Yesus yang lain? Jangan-jangan itu hanya tipuan penguasa kegelapan saja? Tetapi, keheningan yang kualami…. suara yang masih terngiang itu… terlebih lagi debar-debar di hatiku… ah tak mungkin lain… pastilah Lelaki itu ialah Yesus.
No comments:
Post a Comment