
“Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna;
kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan".
Lukas 17:10
Dalam bahasa Yunani ada beberapa kata yang berpadanan dengan kata hamba. Kata ‘hamba’ yang dipakai oleh Tuhan Yesus pada bagian ini ialah doulos (doulov) yang berarti budak. Seseorang yang secara permanen berada dibawah perhambaaan kepada tuannya.
Kita adalah hamba-hamba Tuhan. Apa artinya ini? Artinya kita adalah budak yang tidak memiliki hak apapun dihadapan Tuhan. Tidak ada satu hal apapun yang membuat diri kita layak membanggakan diri dengan segala apa yang kita kerjakan ataupun hasilkan.
Menjadi hamba ternyata bukanlah hal yang mudah karena pada diri kita terkandung suatu keinginan untuk menjadi yang utama. Kita ingin menjadi seseorang yang dikenal dan dihormati oleh orang-orang lain. Kita ingin kemampuan diri kita dikenal dan diakui orang lain. Kita senang melakukan hal-hal yang membuat orang lain menyenangi dan memuji diri kita.
Dalam perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus, jelas sekali kita melihat perbedaan posisi dan sikap antara seorang hamba dengan tuannya. Seorang hamba setelah bekerja keras di ladang tentunya menjadi letih dan lapar. Setelah pulang, apakah ia berharap tuannya akan berterima kasih dan mengajaknya menikmati makan dan istirahat? Tidak! Malahan ia harus mempersiapkan makanan bagi tuannya, baru setelah tuannya selesai ia boleh makan dan beristirahat.
Bagaimanakah dengan kita? Setelah menyelesaikan tugas pelayanan yang dipercayakan pada kita, apakah kita mengharapkan ucapan terimakasih dan pujian dari orang lain? Setelah mencapai kemajuan dalam karir ataupun usaha, apakah kita menganggap hal itu adalah upah dari kerja keras dan kemampuan kita? Sehingga kita layak menerima penghargaan dari orang lain (keluarga/ masyarakat).
Bukan karena kita bisa, bukan karena kita pandai, hebat dan berjasa. Kita hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna, kita hanya melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Kita bahkan tidak layak mengharapkan ucapan terima kasih, sebab kita adalah hamba yang hanya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh tuan kita. Dapatkah kita bersikap demikian?
Upah tebesar kita ialah bahwa kita diperkenankan untuk menjadi hamba Tuhan. Menjadi hamba dari Allah yang Maha Agung. Yohanes Pembabtis menyatakan bahwa, bahkan untuk membungkuk dan membuka tali kasutNya ia tidak cukup layak. [Lukas 3:16] Siapakah kita, sehingga Allah Pencipta Semesta Alam mau memberikan tugas muliaNya pada diri kita, manusia yang tidak berguna ini?
-ash-
No comments:
Post a Comment