Friday, March 20, 2009

Yesus Bermahkota Emas #1

part 1 | part 2 | part 3

Bagian 1: Sang Pelihat

Hari ini seperti juga hari-hari kemarin, kembali kutersentak bangun dari tidurku. Selalu saja kesenangan untuk menikmati mimpi-mimpiku terganggu oleh keriuhan pagi. Mengapa orang-orang itu begitu senang mengganggu keteduhan pagi selepas pelukan malam dengan keriuhan yang tak jelas? Mengapa selalu tidak ada kesempatan yang tersisa untuk menikmati kehangatan hari yang baru?

Pernah aku mencoba untuk mengingatkan orang-orang itu, “Hei..! Mengapa kalian tak dapat berhenti sejenak untuk menonton pertunjukan sang mentari!” Mereka hanya menatap heran dan melengos sambil berkata, “Dasar pemalas..! Dasar Gila…!” . Sial…! Rupanya mereka benar-benar tidak bisa diganggu, menyesal aku menyapa mereka. Dan mulai saat itu aku memutuskan untuk menjadi pendengar dan pelihat dari segala kebodohan dan kegilaan orang-orang sekitarku. Kuputuskan untuk mengunci bibirku sembari membiarkan telinga dan mataku mengerjakan tugasnya.

Mentari mulai meninggi, perlahan ia meninggalkan jejak fajar yang dibuatnya. Heran juga, mengapa ia tak pernah bosan mencipta keindahan fajar, sementara orang-orang tidak sempat memperhatikannya. Ataukah ia bersukacita dengan keasyikannya sendiri tanpa peduli apakah ada atau tidak ada orang yang akan melihatnya? Peduli amatlah, paling tidak masih ada aku yang mencoba melihat karyanya, walau selalu terganggu dengan keriuhan orang-orang.

Sayup aku mendengar suara nyanyian di kejauhan, pasti dari Gereja di tepi jalan raya itu. Ups… sudah hari minggukah ini? Segera aku melangkahkan kaki menuju Gereja tersebut. Dari seberang jalan aku dapat melihat di halaman Gereja, bapak Pendeta tengah berbicara di atas podium. Sebenarnya aku tidak tertarik dengan tontonan ini, mataku -yang sukar di atur ini- lebih tertarik dengan patung yang berdiri megah di halaman gereja itu. Aku tidak mengenal patung itu, tapi pastilah itu patung Yesus, seperti yang sering kudengar. Orang-orang mulai bernyanyi-nyanyi dan lihat…. Pendeta meletakkan Mahkota Emas di kepala patung itu.

Kucoba untuk menyeberang dan mendekati kerumunan orang-orang itu. Tapi… sial….! Baru saja aku mendekat, seorang dari mereka keluar dan dengan angkuh menghalau dan mengusirku. Brengsek….! Tapi lumayan jugalah dapat duit receh sekeping dua keping, paling tidak cukup untuk membeli sebatang rokok. Bibirku serentak terasa asam, ah… tahu saja kalau aku dapat rejeki usiran. Dengan ditemani sebatang rokok yang kubeli dari pedagang asongan kembali aku mengamati apa yang sedang berlangsung. Tentu dari kejauhan saja.

Akhirnya orang-orang itu bubar juga, kulihat Pendeta tadi berbicara dengan dua orang pria yang tak asing bagiku. Yang satu, seorang Pejabat yang sering memerintahkan anak-anak buahnya untuk menggusur dan mengusir kehadiranku. Yang satu lagi seorang Pengusaha yang tak pernah puas dengan kekayaannya. Entah apa yang mereka bincangkan, aku tak mendengarnya. Mungkin mereka sedang menyombongkan keberhasilan mereka membangun monumen, yang –tak dapat kupingkiri- memang sangat indah dan megah itu.

Tak lama kemudian merekapun meninggalkan tempat itu. Kembali Gereja menjadi sepi seperti biasanya. Akupun berlalu dari tempat itu… sempat terlihat olehku Penjaga-penjaga yang mengusir anak-anak jalanan yang mendekati monumen itu. Kali ini mereka tidak mendapat uang receh seperti yang kudapat sebelumnya.

Semua kejadian tadi kurekam dengan baik dalam ingatanku. Untuk apa? Entahlah…? Aku sendiri tidak tahu, yang kutahu aku hanya ingin menjadi pelihat yang baik.

part 1 | part 2 | part 3

No comments:

Post a Comment